Senin, 17 Juni 2013

Dialog Dengan JT Bag 7

JT TIDAK FAHAM MAKNA BID'AH

JT : Salafy selalu teriak-teriak agar menjauhi bid’ah padahal mereka sendiri berbuat bid’ah. Ini namanya maling teriak maling.
STI : (bingung) mana buktinya?
JT : berda’wah pakai radio, selebaran dan internet apa itu bukan super bid’ah namanya terus gak mau datangin orang lagi.[1]
STI : (tersenyum) ooo, itu toh, tapi apa sampean ngerti bid’ah itu apa sampai antum nuduh salafy berbuat bid’ah?
JT : Bid’ah ya bid’ah.
STI : iya tapi bid’ah itu artinya apa to mas?
JT : (mikir terus tersenyum karena dapat jawabannya menurut dia) bid’ah itu artinya sesuatu yang baru.
STI : jadi dulu karena Radio belum ada terus ada makanya bid’ah, internet belum ada jadi bid’ah juga, gitu ya mas?
JT : iya, gimana sih, tadi panggil antum, terus sampean sekarang panggil mas. Pokoknya bid’ah itu seperti yang antum sebut.
STI : hanya sebatas itu?
JT : Iya.
STI : jadi kalau begitu abang – ana panggil abang ya? – nuduh sahabat juga berbuat bid’ah dunk.
JT : ya nggak lah, sahabat nggak mungkin berbuat bid’ah.
STI : waktu Nabi shallallahu ‘alaihi wa salllam masih hidup beliau gak pernah perang gunain kapal laut, tapi waktu beliau meninggal para sahabat naklukin Ciprus melalui kapal laut.
JT : nah kan, sahabat aja bikin cara baru dalam berda’wah.
STI : tadi kan katanya sahabat gak mungkin berbuat bid’ah, kok sekarang berubah
JT : Ya itu namanya bid’ah hasanah
STI : tapi Ibnu ‘Umar dan Hudzaifah bilang, “setiap bid’ah itu sesat walaupun semua manusia menganggapnya hasanah.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa salllam  bersabda, setiap bid’ah itu sesat. Jadi gak ada itu namanya bid’ah hasanah, kalau ada yang bilang ada bid’ah hasanah berarti dia adalah orang sangat lancang terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salllam.
JT : tapi…tapi…buktinya
STI : buktinya apa? makanya biar ta’ jelasin ya kang.
Bid’ah itu memiliki dua pengertian, secara bahasa dan secara istilah. Bid’ah secara bahasa artinya sesuatu yang dibuat pertama kali dan belum ada contoh sebelumnya. Penggunaannya lihat surat Al Baqarah ayat 117 dan Al An An’am ayat 101.
Kemudian bid’ah secara istilah atau secara syariat disebutkan oleh Al Imam Asy Syatibi bahwa : “bid’ah adalah suatu ungkapan (istilah) akan jalan (cara) dalam agama yang di ada-adakan yang menyerupai syariat, tujuannya adalah bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah subhanahu
Jadi nanti disebut bid’ah jika disandarkan ke agama, adapun kalau perkara dunia semata seperti buat alat transportasi maka itu tidak teranggap bid’ah secara syariat.
Atau bid’ah itu tampak secara zhahir sebagai bagian dari syariat namun hakekatnya ia berbeda dengan syariat dari beberapa sisi, di antaranya : 1. menentukan tata cara tertentu yang tidak ada dalilnya 2 .menentukan waktu-waktu tertentu di saat beribadah.[2]
Antum sudah paham ?
JT : iya tapi kan artinya sahabat juga menggunakan sarana bid’ah buat berda’wah dengan kapal melakukan jihad.
STI : kok balik lagi, baiklah sekarang perhatikan, yang pertama penggunaan kapal laut adalah bid’ah jika ditinjau dari sisi bahasa adapun secara syar’i ternyata tidak karena ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salllam telah mengisyaratkan akan hal itu yaitu dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhary dan juga bahwa itu merupakan sunnah Khalifah Utsman yang masih merupakan Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyyin. Jadi peristiwa tersebut menunjukkan bolehnya menggunakan alat atau sarana-sarana semisal radio sekarang untuk mempermudah da’wah. Jadi harus antum bedakan anatara metode dan sarana. Dan juga adanya kaidah yang mengatakan bahwa hukum asal semua benda adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Sekarang saya tanya akang, apa ada dalil yang mengharamkan radio dan internet?
JT : ya nggak ada sih, tapi sama aja dengan cara kami melakukan da’wah, juga gak ada dalil yang mengharamkannya.
STI : dalil tentang haramnya  bid’ah telah jelas dan perbuatan kalian adalah bid’ah. Biar lebih mudah ana kasih cara mudah, Segala bentuk ibadah, tata caranya dan metode pelaksanaannya yang  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salllam dan sahabatnya tidak lakukan dan beliau shallallahu ‘alaihi wa salllam juga tidak menganjurkannya atau memberi isyarat akan bolehnya dalam keadaan beliau shallallahu ‘alaihi wa salllam dan sahabatnya mampu untuk melakukannya maka itu pasti bukan sebuah kebaikan dan kalau kemudian ada yang melakukannya dan menyandarkannya ke agama maka itu adalah perbuatan bid’ah dan pelakunya adalah pelaku bid’ah dan kalau kemudian dia membela dan menda’wahkannya maka dia adalah mubtadi’ atau ahli bid’ah. Adapun ketika ada yang terjadi saat ini dalam keadaan tidak ada di zaman beliau maka dikembalikan kepada kaidah di atas dan kepada para ulama yang mumpuni dan mendalam pengetahuannya. Ingat kepada ulama yang telah menghabiskan umurnya dalam ilmu, bukan kepada tukang semedi di sisi kubur, atau tukang mimpi yang tiba-tiba teriak telah menemukan penafsiran baru tentang sebuah ayat yang tidak pernah dikenal di zaman salafush-shalih
Ingat kata kuncinya, mereka (Rasulullah shallallahualaihi wa salllam dan sahabatnya) mempu untuk melakukannya tapi tidak melakukannya. Sekarang saya tanya apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salllam dan para sahabatnya mampu untuk melakukan da’wah keliling mesjid ngajakin orang shalat atau beliau menganjurkan sahabatnya melakukannya selama 3 hari, sepekan atau yang lainnya.
JT : mampu
STI : Apakah mereka melakukakannya atau menganjurkan orang untuk melakukannya?
JT : eh…tapi nabi kan berda’wah juga.
STI : iya kita semua sepakat itu tapi apakah caranya seperti JT? Antum jawab saja pertanyaan di atas !


[1]               Lihat buku SVJT hal 58
[2]               Lihat Majalah Ilmiah An Nashihah volume 06 Th.1/1424H/2004M hal 16

Dialog Dengan JT : Da’wah Para Nabi Itu Dengan Ilmu


JT : eh…tapi nabi kan berda’wah juga.

STI : iya kita semua sepakat itu tapi apakah caranya seperti JT? Antum jawab saja pertanyaan di atas !

JT : ya nggak sih kan mereka sibuk berperang. Jadi gak sempat khuruj kayak kami, coba mereka sempat.

STI : antum tahu ada waktu-waktu damai di antara peperangan yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya dan waktu di mana dilarang berperang yaitu dibulan haram, jadi waktu itu mereka punya kesempatan khuruj kayak antum, tapi apa mereka melakukannya? ternyata tidak, di waktu damai atau pada bulan-bulan haram para sahabat menetap di mekkah berkerumun di majelis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk menuntut ilmu, atau pergi berdagang bagi pedagang mungkin antum akan dapatkan dalil dalam kitab kalian hayatush-shahabah tapi pastikan haditsnya shahih sebelum memakainya berdalil, sebab kalau tidak hendaklah antum siapkan tempat duduk di neraka.

JT : antum tahu nggak jika seandainya sandal Nabi shallallahu alaihi wa sallam di cat dengan warna merah maka tanah Madinah pasti akan memerah karena seringnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam keliling berda’wah. Maka kami keluar juga untuk berda’wah.

STI : (tersenyum) jadi syubhat baru nih. Tapi Nabi shallallahu alaihi wa sallam  mencukupan diri di Madinah dan tidak keluar ke daerah-daerah, sementara kalian sampai ke India, Pakistan, Bangladesh dan negeri-negeri lainnya. Beliau keluar dari Madinah hanya untuk dua tujuan perang dan haji.

JT : Tapi kan beliau mengutus para sahabatnya untuk berda’wah.

STI : Perhatikan penjelasan berikut :
-           Benar bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengutus para sahabat untuk berda’wah seperti Muadz bin Jabal dan Ali bin Abi Thalib ke Yaman. Tapi mereka diutus sendiri-sendiri.
-           Para sahabat yang diutus bukan sembarang sahabat tapi mereka adalah para ulamanya sahabat seperti Ali bin Abi Thalib yang direkomendasi oleh beliau, Abu Bakar dan Ibnu Mas’ud, Dihyah Al Kalby kemudian Muadz bin Jabal yang kata beliau shallallahu alaihi wa sallam yang paling menegerti tentang halal dan haram dari umatku adalah Muadz bin Jabal. Sementara kalian wahai para Tablighiyyin keluar berda’wah dalam keadaan kalian tidak mengerti tentang cara wudhu dan shalat yang benar. Terlebih dari itu kalian tidak paham dan mengerti tentang makna syahadat LAA ILAHA ILLALLAH. Baru kemarin tobat dari mabuk, berzina, dll besoknya sudah bergelar ustadz. Ajib….
-           Kalau kalian ingin mencontoh da’wah Nabi shallallahu alaihi wa sallam maka mulailah dari mana beliau shallallahu alaihi wa sallam memulai yaitu menda’wahkan tauhid yakni al uluhiyyah dan mulailah dari diri dan keluarga antum serta orang-orang disekitar kalian.
-           Beliau mengutus para sahabat dalam keadaan istri-istri dan keluarga yang sahabat diutus telah kokoh di atas sunnah, mengerti tentang hukum-hukum yang wajib bagi mereka terlebih lagi bahwa ada Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang tetap di Madinah yang akan mengajari mereka, Sementara kalian wahai para karkun keluar berda’wah dan meninggalkan keluarga kalian dalam keadaan bodoh tentang agama, meninggalkan istri kalian dalam keadaan tidak mengerti tentang wudhu, shalat, dan hukum-hukum tentang haid dan nifas. Dan kalian tidak meninggalkan orang bisa membimbing mereka. Bagaimana mereka akan mengerti hukum-hukum agamanya sementara kalian sendiri di atas kebodohan.
-           Dan kalian juga keluar berda’wah sampai India, Pakistan dan negeri lainnya sementara masyarakat disekitar kalian, tetangga-tetangga kalian dalam keadaan bodoh. Sekali lagi bagaimana kalian akan mengajari hukum-hukum agamanya sementara kalian sendiri di atas kebodohan. Sementara kalian sendiri banyak terjatuh kedalam riba dan maksiat lainnya. Ana kenal seorang yang sudah IPB, dipanggil Syaikh di antara anggotanya tapi terjatuh ke dalam jerat ghulul bahkan mengejarnya. Maka ana ingatkan antum akan firman Allah ; Jagalah diri kalian dan keluarga-keluarga kalian dari api neraka. (al ayat).

JT : Tapi masa berda’wah gak boleh, apa Allah Azza wa Jalla akan menghukum orang yang keluar duntuk berda’wah, mengajak kepada agama-Nya?

STI : soal yang itu sebentar, kita selesaikan dulu hal ini, jadi antum ngaku kalau gak ada sahabat yang  pernah lakukan da’wah model antum?

JT : (terdiam)

Dialog Dengan JT : Jawaban Al Ustadz Dzulqarnain


STI : ana anggap diamnya antum pertanda masalah ini sudah jelas, adapun tentang perkataan antum, apa Allah Azza wa Jalla akan menghukum orang yang keluar untuk berda’wah, mengajak kepada agama-Nya?
Mari kita dengarkan sebuah kisah dari seorang imam besar dan pemimpin ulamanya kalangan tabi’in rahimahumullahu jami’an. Al Imam Said Ibnul Musayyib rahimahullah. Beliau pernah menegur orang yang shalat sunnat lebih dari dua raka’at setelah adzan subuh, agar menghentikannya atau Allah akan mengadzabnya.
Yang ditegur tak bergeming malah balik menjawab apakah Allah Azza wa Jalla akan mengadzabku karena aku shalat menghadapnya.
Said ibnul Musayyib menjawab, Allah Azza wa Jalla tidak akan mengadzabmu karena shalat tapi Allah akan mengadzabmu karena menyelisihi petunjuk Nabi-Nya.

JT : Kenapa salafy itu selalu merasa benar sendiri[1]. Tapi ingat da’wah yang selalu membid’ahkan tak ada bantuan Allah. Di mana-mana di usir, bahkan tempat ta’lim dan radionya di bakar[2]. Makanya da’wah kalian jalan di tempat gak maju-maju, bandingkan dengan da’wah JT yang pengikutnya makin bertambah[3].
Dan ingat jika Nabi dakwah maka di kirim Jamaah Dakwah akan jadi asbab hidayah, satu negeri masuk islam, satu kota masuk Islam, Satu kampung masuk islam. Tapi dakwah salafy di modifikasi dengan radio adakah satu keluarga masuk islam. Terus yang mana dakwah salafy yang ada dalilnya[4]
Gak ada itu JT yang yang nyembah kubur, nyembah berhala, nyembah kemnenyan, dll mereka bahkan jaga shalat berjama’ah awal waktu dan selalu tawajjuh kepada Allah.[5]

STI : Sabar daeng. Satu-satu ya, ana jawab
Adapun tuduhan antum bahwa salafy itu merasa benar sendiri saya jawab dengan penjelasan dari Al Ustadz Dzulqarnain hafizhahullah ketika menjawab sebuah pertanyaan yang sama dalam sebuah Tabligh Akbar yang diadakan di Mesjid Al Markaz Maros pada hari Sabtu tanggal 13 Juni 2009[6]. Berikut transkrip dari jawaban beliau :
di dalam da’wah salafiyyahtidak dibenarkan ada yang  menjatuhkan vonis sesat atau vonis bid’ah kepada siapapun tanpa dalil dan hujjah sebab itu berbicara atas nama Allah tanpa hujjah dan Allah telah melarang hal itu dalam Al Qur’an
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
Dan juga Rasulullah mengingatkan, Siapa yang berkata pada saudaranya wahai kafir –atau dia jatuhkan vonis yang lain, kamu wahai sesat, wahai ahlul bid’ah, dia jatuhkan vonis ini, maka vonis ini kata Nabi, “harus ditanggung oleh salah satu di antara keduanya, kalau benar vonis maka tidak apa-apa kalau salah maka vonis ini akan kembali pada dirinya.
Maka tidak benar kalau ada yang mengatakan bahwa da’wah salafiyyah sembarang menyesatkan orang. Di dalam da’wah salafiyyah ada ‘Amar Ma’ruf  Nahi’ Mungkar, tidak mungkin kita biarkan saudara kita terjatuh dalam kesalahan, kita ingatkan bahwa itu adalah salah, itu hal yan gmenyimpang, kita terangkan dalilnya dari Al Qur’an dan sunnah, maka siapa yang dinasehati maka hendaknya dia berlapang dada sepanjang dijelaskan dalilnya dari Al Qur’an dan As Sunnah dan dari uraian ucapan para ulama as-salaf, maka dia terima, dia jangan bersombong menolak kebenaran, walaupun itu menyelisihi gurunya, menyelisihi kelompoknya, menyelisihi siapa yang dia bernisbat padanya. Hendaknya Al Qur’an dan As Sunnah lebih dia besarkan dan agungkan. Mereka berbicara dengan dalil Al Qur’an dan As Sunnah , ada dalilnya terima, tidak ada dalilnya tolak, kalau dia tidak setuju maka sampaikan hujah, bantah dengan dalil kalau memang dia anggap hal tersebut sebagai hal yang salah.[7]
selesai jawaban ustadz…

Maka perhatikanlah bahwa semua peringatan ulama atas sesatnya JT di dasari oleh dalil dan hujah yang nyata, dibangun di atas ilmu dan bashirah serta burhan bagi yang berlapang dada hendak mencari kebenaran. Adapun dalil kalian seperti rumah laba-laba. Sebagaimana telah dan akan dijelaskan.

Adapun yang kedua bahwa da’wah salafy itu selalu di usir dan bahkan dibakar radio dan tempat ta’limnya. Bukankah memang begitu da’wah para Nabi, bukan Cuma Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tapi seluruh para Nabi, bahkan berapa banyak Nabi bukan hanya diusir tapi diburu untuk di bunuh bahkan dibunuh karena da’wah para Nabi selalu menda’wahkan Tauhid Uluhiyyah – jangan dipotong, akan datang penjelasannya – dan ini tidak sesuai dengan hawa nafsu mara mad’unya. Jadi kalau Cuma di usir atau rumahnya dibakar itu mah nggak seberapa.
Lantas apakah bisa dikatakan kalau da’wah para Nabi itu tidak di tolong oleh Allah karena mereka banyak yang dibunuh bahkan ada yang digergaji dan juga Rasulullah juga diusir dari kampungnya bahkan hendak di bunuh, bukankah kata antum sendiri bahwa iman itu harus di tebus dengan pengorbanan, nah sekarang anak panah telah mengenai penarik busurnya.
Apakah kemudian bisa dikatakan kalau da’wah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya itu tidak mendapat pertolongan Allah karena para sahabat di siksa bahkan orang tua Ammar dieksekusi oleh kafir quraisy. Khubaib bin Adi mati kemudian disalib. Apakah bisa dikatakan da’wah Al Imam Al Bukhary tidak mendapat pertolongan dari Allah azza wa Jalla karena fitnah yang beliau hadapi membuatnya diusir sehingga harus berpindah-pindah sampai beliau rahimahullah meninggal di Samarqand. Apakah bisa dikatakan kalau da’wah Dua Ahmad yaitu Ahmad ibnu Hanbal dan Ahmad bin Abdul Halim tidak ditolong oleh Allah Azza wa Jalla karena mereka rahimahumallah dipenjara, disiksa dan di boikot, bahkan Al Imam Ahmad Ibnu Abdul Halim  meninggal dalam penjara. Nah sekarang mata pedang itu berbalik mengenai pemegangnya, sementara kalian keliling dunia, wara-wiri dari satu benua ke benua yang lain, dari satu perbatasan negeri ke perbatasan negeri lainnya dan kalian tidak mendapat hambatan sedikitpun, tidak dusir dan tidak dicaci kecuali oleh para penuntut ilmu yang mengerti batilnya da’wah kalian. Di setiap negara yang kalian singgahi disambut dengan “kalungan bunga”. Apakah seperti ini da’wah para Nabi?
Ada tanggapan ?

JT : (Diam)

------------------------------------------------------
[1] Lihat buku SVJT halaman 2
[2] Lihat buku SVJT halaman 58 – 59
[3]Syubhatini juga sering dilontarkan untuk menjadi dalil akan benarnya da’wah mereka.
[4]Lihat buku SVJT halaman 59-60
[5]Lihat buku SVJT halaman 25 – 26
[6]Dan terungkap bahwa yang bertanya akan hal itu adalah Karkun JT yang memang banyak hadir saat itu, entah untuk tujuan apa, hanya Allah saja yang tahu.
[7]Ada sebuah cerita yang unik, aneh, lucu, menggelikan sekaligus menyedihkan dan memiriskan hati sehubungan dengan pertanyaan dan jawaban ustadz di atas. Seorang ikhwa salafy yang sebelumnya sempat berjalan bersama JT bernama Abdurrahman Gunawan menyampaikan kepada saya bahwa dia pernah didatangi oleh seorang JT yang bernama Zakariya yang tinggal di sekitar Batang Ase atau Mandai Maros dan bertanya dengan nada keras kepada Abdurrahman tentang siapa yang yang menyebarkan tulisan berisi kumpulan fatwa para ulama akan sesatnya JT oleh Syaikh Rabi’hafizhahullahi. Kemudian berlangsung pembicaraan yang isinya diantaranya adalah bahwa menurut JT Zakariyya Al Ustadz Dzulqarnain memuji JT dengan mengatakan bahwa JT itu mengajak kepada Allah. Ketika ditanya oleh Abdurrahman apakah dia mendengarnya sendiri maka kata JT Zakariya bahwa temannya yang menyampaikan hal itu pada dia. Maka Abdurrahman hanya bisa beristighfar kepada Allah. Demikianlah JT, atas nama Nabi saja mereka berani berdusta patah lagi hanya terhadap seorang ustadz. Wallahul Musta’an. Nasalullahassalamata wal ‘afiyah.
Dalam dialog tersebut Abdurrahman menyampaikan agar kalau mereka JT tidak sepakat dengan apa yang dituliskan Asy Syaikh Rabi’agar menuliskan bantahan yang tentunya dengan hujjah, tapi kata JT Zakariyya itu hanya buang-buang waktu. Jadimenurut JT Zakariyya ini Al Imam Ahmad telah membuang-buang waktunya ketika menulis kitab Ar Radd ‘Ala Adz Dzanadiqah, begitu juga dengan Al Imam Al Bukhary telah buang-buang waktu ketika menulis kitab Khalq Af’alil ‘Ibad. Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah begitu para ulama lain yang telah menuliskan bantahan-bantahan terhadap bid’ah dan ahlinya telah membuang-buang waktunya menurut si JT Zakariyya.

Dialog Dengan JT : Da’wah Itu Menyerukan Kebenaran Bukan Cari Pengikut


STI : selanjutnya tentang da’wah salafiyyun yang jalan di tempat maka antum salah besar dari waktu ke waktu da’wah ini terus berkembang. Taruhlah begitu tapi ukuran kebenaran dan keberhasilan sebuah da’wah atau manhaj itu tidaklah di ukur dari banyaknya pengikut. Perhatikanlah para Nabi ‘alaihimus salam ada diantara mereka yang pengikutnya kurang dari sepuluh, bahkan ada yang tidak mendapatkan satu orangpun yang menyambut da’wahnya. Perhatikanlah Nabiyullah Nuh alahissalam, 950 tahun beliau berda’wah tetapi lihat berapa orang yang menyambut da’wah beliau, bahkan anak dan istrinya sendiri tetap durhaka, apakah lantas bisa dikatakan bahwa da’wah Nabi Nuh tidak berberkah dan tidak ditolong oleh Allah.  Cukuplah firman Allah ‘Azza wa jalla, “dan hanya sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang bersyukur.  Dan juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bersabda, islam ini pada awalnya aneh (asing, hanya sedikit pengikutnya) dan akan kembali asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing.
Lagipula da’wah salafiyyun adalah untuk mengajak orang mentauhidkan Allah ‘Azza wa jalla dan agar hidup di atas bimbingan wahyu dan assunnah bukan buat cari pengikut mana yang paling banyak.http://aboeshafiyyah.wordpress.com/

Minggu, 16 Juni 2013

Apa Itu Salafi Dan Siapakah Tokohnya

Apa Itu Salafi Dan Siapakah Tokohnya?

Posted by Admin Ma'had Annashihah Cepu 
Oleh : Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi
Salafiy adalah nisbah kepada salaf.
Salaf sendiri artinya adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut mereka (tabi’in) dengan baik dari penghuni tiga kurun yang dimuliakan dan yang setelah mereka, inilah yang disebut dengan salafiy. Bernisbah kepadanya artinya bernisbah kepada apa yang dipegangi oleh para sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan kepada jalan ahlul hadits.
Dan ahlil hadits adalah para pengikut manhaj salafiy yang berjalan di atasnya.
 Maka salafiy adalah sebuah aqidah dalam masalah nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Juga sebuah aqidah dalam masalah qadr, aqidah dalam masalah sahabat, dan seterusnya. Maka para salaf beriman kepada Allah dan dengan nama-narna-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi yang Allah sendiri sifatkan diri-Nya dengannya dan yang disifatkan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mereka (para salaf) beriman kepadaNya menurut bentuk yang sesuai dengan kemuliaan Allah tanpa melakukan tahrif (merubah kata hingga merubah makna), tamsil (memisalkan Allah dengan makhluk), tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), ta’thil (meniadakan sifat bagi Allah atau menyatakan Allah tidak memiliki sifat apapun) dan ta’wil (mengartikan dengan salah, seperti misal; tangan Allah diartikan kekuasaan Allah. Ini salah. TanganAllah diartikan juga dengan tangan Allah. Tapi tidak boleh menyerupakannya dengan tangan makhluk-red).
Mereka para salaf juga beriman kepada qadr baiknya dan buruknya. Dan tidak sempurna iman seseorang hingga dia beriman dengan qadr yang Allah taqdirkan atas para hamba-Nya. Allah berfirman: “Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan qadrnya” (Al Qamar: 49)
Adapun dalam masalah sahabat, maknanya adalah beriman bahwa para sahabat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam wajib kita ridho kepada mereka dan meyakini bahwa mereka adalah orang yang adil. Mereka adalah sebaik-baik ummat dan sebaik-baik kurun. Dan meyakini bahwa mereka semua baik. ini berbeda dengan keyakinan syi’ah dan khawarij yang mengkafirkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menghormati mereka.
Adapun dalam salafiy tidak ada tokoh selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin kelompok ini dan panutan mereka. Dan juga para sahabat adalah panutan mereka. Dasar hal ini adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
و قال صلى الله عليه و سلم : “ألا و إن من قبلكم من أهل الكتاب افترقوا على ثنتين و سبعين ملة  ، و إن هذه الملة ستفترق على ثلاثِ و سبعين : ثنتان و سبعون في النار ، وواحدة في الجنة، و هي الجماعة” (رواه أحمد و غيره و حسنه الحافظ)
“Telah terpecah orang-orang yahudi menjadi tujuhpuluh satu golongan dan terpecah orang nashara menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan akan terpecah ummatku menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya dalam neraka, kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya: Siapakah mereka, wahai Rasulullah? Beliau berkata: Mereka adalah orang yang berdiri diatas apa yang aku dan para sahabatku berdiri diatasnya.” (HR Abu Daud and dishahihkan syaikh Al Albani dalam shohih Sunan Abu Daud 3/115)
Dan juga beliau besabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu yang menerangkan tentang khuthbah beliau yang padanya beliau berwasiat untuk bertaqwa kepada Allah,
maka beliau berkata:
 
 و قال صلى الله عليه و سلم : “أوصيكم بتقوى الله عز و جل و السمع و الطاعة و إن تأمر عليكم عبدٌ حبشيٌ، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين تمسكوا بها و عضوا عليها بالنواجذ ، و إياكم و محدثات الأمور ، فإن كل محدثة بدعة ، و كل بدعة ضلالة ، و كل ضلالة في النار” (رواه النسائي و الترمذي و قال حديث حسن صحيح)
 
 Aku wasiatkan kaitan untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat, walau yang memimpin kalian adalah budak dar-i Habsyi.” Kemudian beliau menyuruh untuk berittiba’ kepada sunnahnya dan sunnah para khatifahnya yang rasyid dan mendapat hidayah. Beliau katakan: “Gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap kebid’han adalah sesat.” (HR Turmudzi dan dishohihkan syaikh Al Albani datam shohih sunan Turmudzi no.2830).
http://abuamincepu.wordpress.com

Sabtu, 15 Juni 2013

Analisis: Densus 88 Menebar Teror Paska Bom Mapolres Poso

Analisis: Densus 88 Menebar Teror Paska Bom Mapolres Poso

KIBLAT.NET - Sangat memprihatinkan!, inilah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan langkah aparat keamanan khususnya Densus 88 dalam mengurai teror di Poso. Paska peristiwa bom Mapolres Poso (3 Juni 20130), aparat Densus 88 dibantu aparat kepolisian setempat secara intensif menggelar operasi terbuka dan tertutup.Tak pelak akhirnya melahirkan kondisi ketidak nyamanan bagi masyarakat Poso, apalagi cara-cara yang dipertontonkan oleh aparat Densus 88 cenderung arogan. Bahkan akhirnya memicu kemarahan warga muslim Poso kota, otomatis makin memperkeruh suasana.
Tindakan-tindakan law enforcement yang mengedepankan kekerasan dengan target orang yang baru terduga berujung pada kematian target, membuat masyarakat Poso marah. Bahkan menarget Mapolres Poso menjadi sasaran amuk. Tidak lain karena ulah aparat Densus 88 main tembak terduga hanya dengan alasan membahayakan petugas dilapangan. Dari Mabes Polri seperti biasa bagian penerangan/Humasnya (Brigjen.Pol, Boy Rafli) juga memberikan keterangan di depan insan media tentang kronologi dan alasan aparat keamanan kenapa harus melumpuhkan target hingga tewas. Dan media mengaminkan, bahkan media seperti TV One ambil peran untuk memutar balik fakta serta bernafsu menyudutkan masyarakat Poso dan mendewakan aparat Densus 88.
Kita yakin sekarang masyarakat cukup cerdas menyikapi, tidak begitu mudah mempercayai begitu saja opini dan propaganda media (seperti TV One, dll) dalam isu terorisme secara umum maupun kasus yang ada di Poso. Dari penelusuran  CIIA dilapangan didapatkan fakta realita yang berbeda, berikut kronologi  peristiwa kekerasan aparat Densus 88 di Poso (Senen, 10 Juni 2013);
ü  Sekitar Pukul 15.35 wita terduga yang bernama Ahmad Nudin mengendarai motor Revo DN 4159 EI yang sudah di buntuti oleh aparat Densus 88 melintas di Jalan. P Seram.Terduga pulang dari sholat Ashar di Masjid al Muhajirin.
ü  Sekitar pukul 15.40 wita ketika target (terduga) sampai di Jalan. P Irian tepatnya di depan  lorong jalan P. Seribu, motor dengan pengendaranya (terduga) tersebut ditabrak oleh Densus 88 dengan mobil yang telah membuntuti sebelumnya.
ü  Setelah motor dan terduga terjatuh yang berjumlah dua orang sempat melarikan diri masuk kea rah lorong P.Seribu.
ü  Karena melihat terduga lari, kemudian Densus 88 melepaskan tembakan  sebanyak 7 kali lebih. Dan akhirnya 1 (satu) orang berhasil di tangkap dengan luka tembak di beberapa bagian. Dan 1 (satu) lagi berhasil melarikan diri.
ü  Sementara sepeda motor yang di pakai oleh terduga tertingal di TKP dan kemudian di amankan oleh anggota koramil Poso kota.
ü  Akhirnya berita menyebar ke masyarakat Poso dan membuat situasi memanas  karena bunyi tiang listrik dipukul bertalu-talu oleh massa.Hingga pukul 20.00 wita bentrok terjadi antara warga Muslim Poso dengan bersenjatakan batu menghadapi aparat kepolisian dan TNI di desa Kayamanya.
ü  Bahkan kemudian sebagian masyarakat yang marah atas tindakan aparat Densus 88 bergerak ke arah Mapolres Poso dengan membakar ban bekas.
ü  Masyarakat yang bergerak ke arah Mapolres Poso menuntut jenazah salah satu korban tewas tetapi tidak di penuhi.
ü  Temuan di lapangan warga Poso yang tewas (Ahmad Nudin) yang dituduh teroris di eksekusi Densus 88 dalam kondisi tidak berdaya.Korban tidak dalam posisi melawan untuk menembak petugas atau mengeluarkan tembakan seperti yang di ungkapkan Brigjen Boy Rafli di Jakarta, tapi fakta yang terjadi adalah terduga  melarikan diri.Dan korban tidak sama sekali bersenjata seperti yang di tuduhkan oleh aparat dan diaminkan oleh media TV.Bahkan TV  One mengumbar kebohongan ke publik dengan menuduh terduga yang tewas telah melepas tembakan 6 (enam) kali. Ini dusta semua.
Dari peristiwa diatas sangat patut disesalkan, seolah-olah jalan persuasive dan dialog bukan lagi jalan bagi orang-orang berakal untuk menyelesaikan masalah. Arogansi kekuasaan menjadi penentu benar dan salah atas rakyat jelata.
Kalau kita berfikir obyektif, kenapa aparat tidak menjunjung supremasi hukum? Benarkah mereka yang terbunuh adalah teroris? Jikapun benar bahwa mereka adalah teroris apakah mereka layak harus di bunuh? Sejauh apa level keterlibatan mereka dalam kasus terorisme hingga layak begitu saja harus tewas di eksekusi? Apalagi di bunuh diluar prosedur pengadilan. Bukankah negara ini (Indonesia) menganut negara hukum? Dan setiap warganya dijamin sama di hadapan hukum bahkan harus di jamin dengan azas praduga tak bersalah (presumption of innocence).Bisa saja seseorang menjadi buron dan target karena di temukan alat bukti, saksi yang bisa mengarah dan menjeratnya. Bahkan menyangkanya, kemudian mengadilinya.Akan tetapi sebelum pengadilan mengetok palu bahwa seseorang di vonis bersalah maka tetap saja dia bebas dari segala tuduhan dan harus dijamin dari segala bentuk tindakan yang malanggar hak azasi mereka.
Logika pengadilan yang berjalan juga masih memberikan ruang dan kesempatan bagi tervonis untuk kasasi bahkan sampai naik ke grasi.Semua orang juga mengetahui, tida semua terduga bisa menjadi tersangka, dan tidak semua tersangka  kemudian berubah menjadi terdakwa. Dan tidak semua terdakwa kemudian bisa di vonis salah seperti tuduhan jaksa hingga harus menjadi narapidana. Dilapangan banyak kasus salah tangkap dalam isu terorisme, itu harus di akui.
Dari semua terduga teroris versi Densus 88 dan BNPT yang tewas,adakah  mekanisme yang bisa membuktikan bahwa benar-benar mereka teroris?. Yang terjadi adalah drama (sandiwara) pengadilan atas orang yang sudah membujur kaku bahkan sudah terkubur diliang lahat. Sebuah kejahatan yang luar biasa!.
Para pemegang kebijakan (Presiden, Kapolri, DPR) harusnya serius mau mengkaji dan evaluasi ulang pola-pola penindakan yang dominan mengedepankan kekerasan oleh aparat Densus 88. Karena kekerasan produk aparat telah melahirkan sikap antipasti masyarakat terhadap aparat penegak hukum (Polisi). Lihatlah Poso, begitu Densus 88 buat ulah kemudian pergi, sisanya adalah kebencian masyarakat muslim Poso dan akhirnya di generalisir menempatkan semua aparat kemananan di Poso adalah musuh. Inilah realitasnya, jika tidak disadari dan ada perubahan langkah yang lebih bijak proporsional dan tepat, kita bisa ambil kesimpulan bahwa kekerasan yang terjadi adalah fabrikasi secara sistemik dan meluas. Indonesia telah berubah menjadi “state terrorism”.(kiblat.net)

Dialog Dengan JT Bag 6

Adapun perkataannya yang saya siratkan tadi yaitu, tak ada yang seperti antum duduk di majlis kajian kemudian merasa Imannya sudah betul…Ajib !!.

ini adalah tuduhan yang sangan dusta dan tanpa bukti, di halaman lain yakni hal 69 – 70 ia menuduh Salafiyyun sudah merasa beres aqidahnya dan merasa aman dari sifat munafik.
Wahai penulis ingatlah firman Allah Azza wa Jalla, “katakanlah datangkanlah bukti jika kalian memang benar.
Mana bukti bahwa salafiyyun sudah merasa benar imannya dan merasa aman dari sifat munafik. Salafiyyun hanya meyakini bahwa apa yang diyakininya itu adalah sesuatu yang benar adapun orangnya sendiri maka salafiyyun adalah orang yang paling mengkhawatirkan diri-diri mereka akan terjatuh ke dalam kebinasaan dan kemunafikan karena mereka paham betul makna firman Allah Azza wa Jalla, “Apakah mereka merasa aman dari makar Allah, tidaklah orang yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang yang merugi.”
Apakah menurut kalian jika Salafiyyun telah merasa aman dari kemunafikan dan kesyirikan maka mereka akan terus mengkaji ilmu tentang aqidah yang benar. Tapi kenyataannya, karena ketakutan mereka akan terjatuh ke dalam penyimpangan besar berupa bid’ah, kemunafikan dan kesyrikian maka para salafiyyun tak henti-hentinya mengkaji kitab-kitab Aqidah yang ditulis oleh para ulama. Mereka berpindah dari satu kitab ke kitab yang lain padahal pembahasannya mirip-mirip bahkan terkadang beberapa kitab diulang-ulang berapa kali untuk lebih memantapkan faidah. Mereka berpindah dari kitab Ushul Ats Tsalatsah ke Kitab Tauhid Ibnu Abdul Wahhab At Tamimi, Dari Kasyfu Syubuhat Muhmmad At Tamimi An Najdi Ke Kitab At-Tauhid Al Imam Ibnu Khuzaimah, dari Ushulus Sunnah Imam Ahmad ke Al Iqtishad fil I’tiqad Al Hafizh Abdul Ghani Al Maghdisi, dari Syarhus-Sunnah Al barbahari ke Syarhus-Sunnah Al Imam Al Muzani, dan lain-lain dari kitab para ulama. Maka sekarang pertanyaannya, siapakah yang merasa benar keimanannya dan merasa aman dari kemunafikan, apakah orang yang terus menerus mengkaji tentang aqidah tauhid ataukah orang-orang yang mendengar kitabnya saja tidak, apalagi membaca dan mengkajinya yang bahkan mereka hanya bergelut dengan kitab yang penuh dengan hadits lemah bahkan palsu dan juga bid’ah dan khurafat ?
Mereka (para Salafiyyun) juga senantiasa mengkaji ilmu-ilmu fiqih dari hadits-hadits yang shahih sehingga mereka senantiasa menyembah dan beribadah kepada Allah dengan cara yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berpindah dari satu kitab fiqih ke kitab fiqih yang lain, mereka berpindah dari Umdatul Ahkam ke Bulughul Maram, dari Al Mughni Ibnu Qudamah ke Munakhlah An Nuniyyah, dari Al Umm Imam Syafi’i ke Al Majmu Imam Nawawi, dan lain-lain dari kitab para ulama. Maka pertanyaannya sekarang siapakah yang merasa takut terjatuh ke dalam penyimpangan beribadah kepada Allah dengan cara yang tidak disyariatkan (bid’ah) apakah orang yang menghabiskan waktunya untuk belajar mengkaji ilmu agama ataukah orang (JT) yang sibuk teriak-teriak ayo shalat tapi ternyata gak tahu kalau yang namanya duduk iq’a itu terlarang dan atau menggulung lengan baju dalam shalat juga terlarang?
Mereka juga senantiasa mengamalkan ilmu yang dimilikinya dan menda’wahkannya ke setiap orang yang mungkin dia da’wahi, mulai dari keluarganya, istri dan anak-anaknya, mengajarkan mereka aqidah yang benar, cara beribadah yang sesuai tuntunan Al Qur’an dan Sunnah. Maka pertanyaannya sekarang, siapakah yang lebih benar cara da’wahnya, orang yang membaca Al Qur’an dan Hadits dan kitab para ulama yang menjelaskannya kemudian mengajarkan kepada keluarga dan orang-orang disekitarnya bahwa yang namanya jimat itu syirik, yang namanya berdoa di kuburan itu adalah wasilah kesyirikan ataukah mereka (JT) yang wara-wiri keliling mesjid bawa kompor dan selimut tapi meninggalkan keluarga, tetangga dan orang disekitarnyanya berkubang kesyririkan bahkan banyak di antara mereka (JT) sendiri masih mengenakan jimat-jimat.
Siapakah yang lebih benar da’wahnya, orang yang datang ke majelis ilmu kemudian pulang kepada keluarganya dan mengajarkannya tentang tata cara mandi junub yang benar, hukum seputar haid dan nifas ataukah orang yang keliling dunia bawa piring dan panci tapi meninggalkan istrinya dalam keadaan tidak tahu membedakan antara haidh, nifas dan istihadhah, bahkan pengertian istihadhahpun istrinya tidak tahu. Bukankah Allah berfirman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka dan Dia juga berfirman kepada Nabinya, Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.
Jawablah dengan jujur!!! Sekali lagi

Dialog Dengan JT : Antara Iman, Tauhid dan Aqidah.

Pada halaman 21 penulis berkata, Nabi 13 tahun bina iman sahabat. … di Qur’an hanya di kenal IMAN, AMAL SHOLEH. Tidak dikenal istilah Aqidah, Rububiyyah, Uluhiyyah. Itu semua bukan hakekat iman, itu semua Ilmu Iman, atau kasarnya teory iman.
Kata siapa dalam Al Qur’an tidak ada istilah Aqidah, Rububiyah dan Uluhiyah. Tapi kenapa antum kemudian berhujjah dengan ayat Al Qur’an, Alastu Birabbikum yang dengannya antum menetapkan rububiyahnya Allah Azza wa Jalla. Apa ini bukan namanya tabrak kanan tabrak kiri, hari ini bilang iya besok bilang tidak. Walah… gawat kalau da’i islam begini semua, tapi Alhamdulillah untungnya Salafiyyun tidak begitu. Sekarang mana yang benar pernyataan antum di hal 21 atau tulisan antum di halaman 26 yang menetapkan istilah rububiyah dengan dalil di atas.
Nah, kalau antum sudah menetapkan tentang Rububiyyah Allah Azza wa Jalla dengan ayat Alastu Birabbikum. Maka apa yang makna kata Ilah yang ditarik dari firman Allah Azza wa Jalla,
Allah, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia.
Bukankah itu maknanya Al Uluhiyyah, kalau antum bilang bukan maka jelaskan apa maknanya?
Adapun Aqidah maka itu adalah penamaan lain dari iman dan keyakinan dan semua ulama telah sepakat akan penggunaannya.
Kemudian siapa bilang Nabi shallallahu alaihi wa sallam bina imannya sahabat Cuma 13 tahun. Maka ketahuilah wahai jahil dari awal da’wah beliau shallallahu alaihi wa sallam sampai meninggalnya beliau shallallahu alaihi wa sallam yang beliau shallallahu alaihi wa sallam serukan adalah tauhid dan salah satu sabda terakhir beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah, janganlah kalian menjadika kuburannku sebagai I’ed (sesuatu yang sering didatangi). Apakah maksud beliau shallallahu alaihi wa sallam di atas bukan dalam perkara aqidah karena takutnya beliau shallallahu alaihi wa sallam kuburannya akan dijadikan wasilah kesyirikan.
Pada halaman 23 penulis berkata, BUKAN DUDUK dI Majelis Ta’lim seperti salafy sekarang yang mengaku pengikut salaf..ini salaf yang mana…?
Pernyataan dengan ungkapan senada juga ditulis di halaman 25,  ‘tak ada yang seperti antum duduk di majlis kajian kemudian merasa Imannya sudah betul…Ajib !!.
Maksudnya adalah para sahabat tidaklah duduk di majelis ta’lim untuk mengkaji ilmu tapi mereka mendapatkan iman itu karena telah melewati cobaan, siksaan dan ujian.
Kata siapa wahai karkun bahwa mereka (para sahabat) tidak duduk di majelis, bahkan mereka berkerumun di majelisnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menuntut ilmu yang baru kemudian mereka sampaikan kepada keluarganya. Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga menyiapkan waktu khusus untuk mengajari para wanita, apakah itu bukan majelis ta’lim wahai jahil. Apakah pertemuan di rumah Al Arqam bin Abil Arqam itu bukan majelis ta’lim namanya. Dan antum pun tahu hadits tentang keutamaan majelis dzikir yang para ulama sepakat bahwa yang dimaskud majelis dzikir dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam itu adalah majelis ilmu di mana Al Qur’an dan As Sunnah di bacakan, bukan acara dzikir berjama’ah sebagaimana yang dilakukan oleh teman-teman kalian penganut bid’ah shufiyyah. Tapi seperti perkataan ulama bahwa kaum sufi dulu karena malas menghapal dan belajar hadits maka mereka membuat-buat hadits palsu, maka para sufi jaman sekarang (JT) karena malas belajar maka mereka berdalil dengan hadits-hadits palsu tadi atau dengan hadits shahih bahkan dengan al qur’an tapi ditafsirkan semaunya.
Lantas kalau menurut karkun, para sahabat mendapatkan ilmu dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bukan dengan cara duduk di majelis lantas dengan cara apa.  Ataukah bagaimana menurutmu cara Mujahid, Atha, Ikrimah dan yang lainnya mendapatkan ilmu tentang agama, lewat mimpi[1] ataukah mereka berkerumun di majelisnya Ibnu Abbas dan sahabat lainnya. Bahkan Mujahid bermulazamah atau bermajelis dengan Ibnu Abbas selama puluhan tahun. Adapun cobaan dan siksaan yang mereka hadapi adalah untuk memperkokoh keimanan mereka yang memangsudah dilandasi dengan ilmu hasil bermajelis dengan Rasulullah.
Klo masih belum cukup,simak baik-baik:
Al Imam Asy Syafi’i berkata :, “Aku membacakan (mengajar) kepada manusia, ketika itu aku berusia 13 tahun[2].
Ahmad bin An-Nadhar Al Hilali berkata, “Aku mendengar bapakku berkata, ‘Dahulu aku berada di Majelis Sufyan ibnu Uyainah[3]
Dan banyak lagi atsar-atsar dari para salaf tentang duduknya mereka di Majelis ‘Ilmu, yang kalau antum mau tahu lebih banyak maka bacalah kitab As Siyar A’lami Nubala dan/atau Tadzkiratul Huffazh karya Al Imam Adz Dzahabi
Sekarang pertanyaannya buat antum, Siapa Salaf JT dalam bentuk berda’wah, siapa dari kalangan para Salafush-shalih yang keliling mesjid bermodalkan kompor, selimut dan panci serta kitab yang dipenuhi hadits lemah bahkan palsu dan kisah-kisah yang mungkar?
Sudahlah, akui saja kalau antum malas belajar, kalau antum menyangkal sekarang antum datang dan ikuti kajian yang diadakan oleh salafiyyin yang mengkaji kitab-kitab karya para ulama besar dan setelah itu antum semua belum terlambat kalau mau keluar berda’wah di jalan Allah. Atau mungkin antum akan berkata lagi, ah, itu hanya buang-buang waktu, lebih baik pergi menda’wahkan yang ditahu, ya akhi.. apa yang antum mau da’wahkan sementara cara wudhunya antum saja masih salah dan tidak sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang antum hendak da’wahkan sementara cara duduk dalam shalat saja masih belum benar. Atau mungkin antum antum mengatakan entar di cuci otaknya, kalau memang kotor ya mesti di cuci dengan Al Qur’an dan Sunnah tapi kalau kalian tidak merasa kotor ya nggak usah merasa takut dicuci. Dan itulah yang bahaya karena pada dasarnya kalian merasa benar sendiri bukan salafiyyin karena kalian enggan di kritik, semua kritikan berdalil Qur’an dan Sunnah mentah di hadapan kepala batunya JT. Adapun salafiyyin silahkan kalau mau mengkritik yang penting berdalil dengan Qur’an dan Sunnah yang shahih berdasarkan pemahaman salafush-shalih bukan berdasarkan pemahaman Maulana Jamil, maulana Zakariya, Maulana ini atau Maulana itu, jangan pakai perasaan dan akal-akalan.

[1]Seperti yang dilakukan oleh big-boss, Mudir dan Founding Fathernya jama’ah Tabligh, Muahmmad Ilyas yang mendapatkan penafsiran ayat 110 dari surat Al Imran melalui mimpi, sebagimana dalam Malfuzhat Ilyas tulisan Muhammad Manshur An Nu’mani dari perkataan Muhammad Ilyas sendiri.
[2]As Siyar 10/54
[3]Al Kifaya fi ‘Ilmi Ar Riwayah (hal 112), As Siyar 8/404
Al Imam Syafi’I dan Al Imam Ibnu Uyainah adalah dari generasi Atba’ut Tabi’in dari generasi Salaf.
Jawablah dengan jujur!!! Sekali lagi
kokohkan dulu singgasanamu kemudian ukirlah baik-baik.
    http://aboeshafiyyah.wordpress.com

Dialog Dengan JT Bag 5 : Antara Murji’ah dan Khawarij, Hadits Mungkar(2)


Perlihatkan ayat mana dalam Al Qur’an yang menggunakan lafal itu. Yang ada adalah, orang yang beriman DAN beramal shalih. Amal shalih yang dimaksud di sini oleh JT adalah shalat, puasa, jihad, dll.
Konsekuensi dari penggunaan kata pasti di atas mengandung dua kesalahan;
  1. Berarti orang yang tidak beramal shaleh bukan orang yang beriman karena kalau dia beriman pasti beramal shaleh adapun kalau kerjanya maksiat semua maka dia bukan orang yang beriman alias kafir dan ini adalah manhajnya Khawarij.
  2. Orang-orang yang beramal shaleh berarti juga pasti beriman. Berarti orang-orang yang melakukan amalan shalih juga masuk kategori beriman. Berarti orang munafik juga orang beriman karena zhahirnya mereka melakukan amal shaleh dan ini adalah Murji’ah.
Sedang telah menjadi ijma’ ahlussunnah tentang tidak kafirnya orang yang melakukan dosa besar selama dia tidak menghalalkannya. Pertanyaan berikutnya apa kategori suatu amalan dikatakan shaleh menurut JT?
Mungkin penulis akan berkilah bukan itu maksudnya tapi ini dan itu, tapi anggapan saya ternyata di pertegas oleh penulis lagi dengan berkata pada hal yang sama, jadi amal berbanding lurus dengan iman.
Kemudian perkataannya , jadi kalau JT habis keluar 3 hari lalu jadi ahli mesjid otomatis termasuk yang Nabi katakan yakni orang yang beriman.
Sebelumnya mari kita lihat dalil yang antum pakai berdalil, hadits tersebut diriwayatkan dari jalam Darraj Abu Samah dari Abul Haitsam dari Abu Said. Al Hafizh yakni Ibnu Hajar berkata tentang Darraj ini dalam At Taqrib (1/235) : “dia shaduq/jujur, sedangkan haditsnya dari Abu haitsam adalah Lemah.
Karena itu Adz Dzahaby memberikan komentar terhadap Al Hakim dengan perkataannya : Darraj meriwayatkan Hadits Mungkar. “
Kemudian perlu dijelaskan bahwa tak satupun dari salafiyyun yang mengatakan orang JT bukan orang yang beriman hanya saja JT mencampurkan keimanannya dengan begitu banyak bid’ah, penyimpangan dan kebatilan dan itu mesti dijelaskan. Jangan katakan ini hanya untuk fadhailul a’mal maka boleh hadits lemah, anggaplah begitu –meskipun sebenarnya umat ini tidak butuh terhadap hadits lemah bahkan dalam perkara fadhail, seperti yang dijelaskan syaikh Al Albany dalam Tamamul Minnah – maka perhatikanlah bahwa itu bukan sekedar fadhailul a’mal tapi itu masalah Aqidah sebab mengandung persaksian tentang keberimanan seseorang yang kata antum gak bisa di tahu hatinya, sebab bisa saja yang bolak-balik ke mesjid itu adalah orang munafik sebagaimana di zaman Nabi.
Di sini penulis melakukan standar ganda karena mencela dan melarang orang mengklaim keimanan bagi dirinya karena telah duduk menuntut ilmu (sebagaimana yang dia sebutkan di halaman 25) tapi ternyata dia sendiri mengklaim keimanan hanya karena telah keluar khuruj maka inilah yang ajaib. Yang lebih ajaib lagi dari mereka adalah, hari ini baru sadar dari zina, mabuk-mabuk, judi, bahkan sepulang dari khuruj bergelimang lagi dengan riba tapi karena keluat khuruj bersama JT, maka besoknya dah jadi ustadz. Benar-benar ajaibkan karena JT melahirkan banyak ustadz karbitan, jadi kalau mau potong kompas jadi ustadz maka khuruj saja sama JT. ….AJIB! kalah kontes da’i yang diadakan salah satu stasiun televisi swasta.
http://aboeshafiyyah.wordpress.com/

Kamis, 13 Juni 2013

Dialog Dengan JT Bag 4 : Kerancuan Dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar


Adapun perkara amar ma’ruf nahi mungkar seperti yang coba dijelaskan oleh penulis pada halaman 14 – 18 maka sungguh Jama’ah Tabligh sangatlah jauh dari masalah ini bagaimana tidak kalau mereka memiliki Kalimat Rahasia yaitu segala sesuatu yang menyebabkan lari atau berselisih antara dua orang maka harus diputus dan dilenyapkan dari manhaj jamaah ini. Maka terlihat di antara mereka kesalahan-kesalahan dalam perkara yang mereka da’wahkan yaitu shalat tapi mereka tidak saling menegur karena takut nanti mereka akan berbeda pendapat sehingga yang ditegur lari dan meninggalkan jama’ah, jadi pada hakikatnya mereka bukanlah bersatu tapi membiarkan perpecahan, inipula yang terjadi dalam semua kelompok yang menyempal dari manhaj salaf.
Adapun perkataan Maulana mereka yang dinukil oleh penulis di halaman 17 – 18 ketika menjelaskan hadits jika kamu melihat kemaksiatan/kemungkaran maka rubahlah…Lihat Fal yughoyyir/Rubahlah jadi bukan hancurkanlah
Itu berkenaan dengan tempat penyembahan syetan, dan penulis juga berdalil bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam di Mekkah tidak menghancurkan berhala-berhala karena belum memiliki kemampuan, maka demikian pula mereka tidak menghancurkan tempat penyembahan syetan karena belum mampu. Lantas siapakah yang memerintahkan antum menghancurkan tempat kesyirikan kalau belum mampu.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam memang tidak melakukan penghancuran karena belum mampu dan kalianpun tidak melakukannya dengan alasan yang sama tapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam berda’wah agar meninggalkan kesyrikikan yang dengannya beliau dimusuhi sedang kalian para karkun apa kalian juga menda’wahkan agar meninggalkan kesyirikan. Bagaimana kalian mau berda’wah kepada kesyirikan sementara kalian gak ngerti apa itu syirik. Buktinya banyak di antara para karkun yang masih membawa jimat-jimat padahal ia telah khuruj selama 40 hari bahkan ada yang 4 bulan, lantas apa yang ia dapat selama 40 hari atau 4 bulan itu.
Kemudian di antara bentuk merubah adalah dengan menghancurkan, lihatlah kisah Nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala kaumnya kecuali yang paling besar. Kemudian Rasulullah setelah Fathu Mekkah menghancurkan dan memerintahkan orang untuk menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah dan di tempat lain.
 
Peringatan : Tidak setiap orang berhak dan boleh melakukan penghancuran yang dimaksud tapi ada syarat2nya yang telah dibahas oleh para ulama.

sumber:
http://aboeshafiyyah.wordpress.com

Senin, 10 Juni 2013

Dialog Dengan JT Bag 3 :Berdalil bukan pada tempatnya.

JT BERDALIL BUKAN PADA TEMPATNYA


Pada hal 6 penulis berkata : PAHAM KAN ANTUM? Bahwa 4 bulan, 40 hari, 3 hari itu cuma metode artinya suatu saat bisa berubah dan boleh dilanggar. Walaupun sebenarnya saya bisa kasih dalil-dalilnya sam antum kalau antum memerlukannya. OK
Dalil yang dimaksud oleh penulis disebutkan di halaman 49 – 53 semuanya dari perkataan Umar bin Khaththab radhiallahu anhu kemudian penulis menutupnya dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam dari Al Irbadh bin Sariyyah dalam riwayar Ibnu Majah dan Abu Daud bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda, “atas kamu wajib sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin al mahdiyyin. Gigitlah dengan gerahammu”
Jawaban :
Mari kita lihat apakah penulis jujur dengar perkataannya.
1.      Pada bagian sebelumnya dia menjelaskan bahwa itu hanya metode LIDDIEN untuk membawa orang kepada agama, tapi ternyata ada dalilnya jadi itu adalah FIDDIEN menurut istilah penulis sementara saya sendiri tidak melihat perbedaan yang signifikan kecuali permainan kata-kata dari penulis.
Sebab apa-apa yang FIDDIEN maka tentu tujuannya adalah untuk agama itu juga atau LIDDIEN. Dan apa-apa yang untuk agama atau LIDDIEN maka itu masuk bagian dari agama.
2.      Jadi membingungkan bagaimana caranya penulis mengkategorikan sesuatu sebagai LIDDIEN dan FIDDIEN. Karena sesuatu yang dia kategorikan sebagai LIDDIEN dengan perkataannya cuma metode artinya suatu saat bisa berubah dan boleh dilanggar ternyata ada dalilnya, jadi itu adalah FIDDIEN karena yang berdalil itu adalah FIDDIEN. Yang semakin menguatkan bahwa menurutnya metode da’wah itu bukan bagian dari agama karena boleh saja dilanggar karena kalau dari agama tentu tidak boleh dilanggar. Tapi ternyata ada dalilnya yang sekali lagi berarti itu bagian dari agama sebagaimana telah kita jelaskan bahwa da’wah adalah ibadah dan ibadah itu harus ada tuntunan  dan dalilnya. Jadi bagi penulis sah-sah saja melanggar bagian dari agama.
Allah Ta’ala berfirman :
فَلْيَحْذَرِ‌ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِ‌هِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
 Artinya : “hendaklah berhati-hati orang-orang yang menyelisihi urusannya (Rasulullah) akan ditimpahkan kepada mereka fitnah atau ditimpahkan adzab yang pedih”
3.      Bukti bahwa mereka telah melanggar aturan agama adalah bahwa dalil yang penulis bawakan telah mereka langgar sendiri. Pada hal 53 dia menyebutkan perkataan umar, “Aku tidak akanmenyuruh pasukan tentara keluar lebih dari tempuh ini.” Maksudnya lebih dari 6 atau empat bulan. Sementara di halaman 8 – 9 penulis berkata, bahkan di Pakistan 7 bulan setiap tahun. Ustadz jangan kaget di Pakistan ada jama’ah pergi tasykil maka tak tahu mau pulang kapan.Maka sekarang saya kembalikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam, atas kamu wajib sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin al mahdiyyin. Gigitlah dengan gerahammu”sementara Jama’ah Tabligh telah melanggar sunnahnya Umar bin Khaththabkarena telah keluar 7 bulan bahkan lebih sementara Umar membatasi maksimal 6 bulan[1].
4.      Pertanyaan berikutnya adalah bahwa di antara sunnah Rasulullah adalah mendakwahkan Tauhid dan menjelaskan dan melarang dari kesyrikan, bahkan inilah inti da’wah dari seluruh Rasul –‘alaihimush-shalatu wassalam - yang di utus, apakah JT melakukannya? Bahkan mereka lari sejauh-jauhnya darinya.
5.      Dalil di atas tidaklah cocok dengan kondisi JT sekarang karena fokus pembicaraan Umar adalah dalam kondisi perang, yang mana sahabat keluar untuk berperang, sementara kalian sendiri para karkun, siapa yang mewajibkan kalian untuk keluar berda’wah dalam keadaan tanpa ilmu.
Saya kembalikan ayat yang dinukil penulis di halaman 23 yaitu surat Yusuf ayat 108,
 Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.[2]
Ayat di atas yang dipakai berdalil justru menghantam kalian sendiri. Berdakwah itu harus dengan hujjah yang nyata atau bashirah yang artinya ilmu yang cukup dan pemahaman yang benar sementara kalian para karkun, wara-wiri keliling mesjid hanya berbekal kompor dan selimut tanpa ilmu, bahkan ilmu tentang tata cara shalat yang benar sesuai tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam, saja antum gak tahu. Bagaimana mau tahu, baru satu hari bertobat dari zina, mabuk dan judi tapi begitu masuk JT , simsalabim langsung jadi ustadz, ini baru yang namanya AJIB…?!?!?!?!?!?[3]
6.      Nah sekarang saya tanya, dalam kondisi damai siapakah sahabat yang wara-wara keliling mesjid selama 40 hari atau 4 bulan dan ngajakin orang shalat, sambil nenteng kompor, panci atau manggul tas berisi selimut sama Kitab atau shahifah yang berisi banyak kedustaan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam dan para sahabatnya serta imam kaum muslimin yang berjudul Fadhailul A’mal ataupun Hayatussh-Shahabah.
7.      Siapakah di antara para sahabat yang keluar berjama’ah atau bahkan sendiri-sendiri meninggalkan madinah dan hanya menda’wahkan ilmu fadhail semisal kalian atau kerjanya HANYA mengajak kaum muslimin untuk keluar shalat semisal yang kalian lakukan kemudian HANYA  menyampaikan fadhilah ini dan fadhilah itu tanpa mengajarkan FIQIHnya , bahkan mereka mengajarkan AQIDAH dan FIQIH sebab semua keutamaan amalan yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam yang shahih tidak akan bisa digapai dengan paripurna kecuali dibangun di atas AQIDAH dan FIQIH (Ibadah dan Mu’amalah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam ) yang benar. Dan AQIDAH serta FIQIH  yang benar hanya bisa diketahui dengan MENUNTUT ILMU. Jama’ah Tabligh menda’wahkan Shalat, tapi pernahkah mereka mempelajari FIQIH SHALAT yang benar, lantas bagaimana mungkin fadhilah shalat itu mereka gapai secara sempurna jika tidak dilaksanakan sesuai Fiqih yang benar atau tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam yang benar. Bukankah beliau Shallallahu ‘Alaihi wasallam  bersabda : “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat,” dan itu hanya bias diketahui –sekali lagi- dengan mempelajari FIQIH, ilmu yang mereka jauhi sejauh-sejauhnya.


[1] Pembahasan ini bukan berarti bahwa aturan ‘umar itu berlaku secara absolute, sebab ada di kalangan ‘ulamayang keluar menuntut ilmu dengan meninggalkan seorang anak yang masih dalam kandungan dan dia tidak pernah kembali sampai anaknya sendiri –yang telah menjelang usia remaja- yang dating mencarinya. Pembahasan di atas dikemukakan hanyalah sebagai bantahan buat mereka yang telah berdalil bukan pada tempatnya.
[2] Akan datang penjelasan dan tafsir ayat di atas dari para imam ahli tafsir yang menegaskan bahwa mereka (JT) telah menyelsihi penafsiran para imam di mana di tempat lain penulis membawakan ayat di atas sebagai dalil dan juga meminta agar melihat penafsiran ayat dan bukan sekdara terjemahan.
[3] Sekedar meminjam istilah penulis yang menggunakan kata AJIB ketika mencela salafiyyun

http://aboeshafiyyah.wordpress.com/